Sabtu, 19 April 2014

Manajemen Industri dan Proyek (Scope Verification)

MANAJEMEN INDUSTRI DAN PROYEK
BAB I              : MANAJEMEN KOMUNIKASI PROYEK
SUBBAB IV   : SCOPE VERIFICATION
KELAS C
KELOMPOK 4

Nama Anggota :
1.     Fariz Hasbi A.                        (21060112130068)
2.     Rian Adi Wirawan                  (21060112130134)
3.     Khoe Happy G.                     (21060112130143)
4.     Dinar Aji Pinujul                     (21060112130148)
5.     Mohamad Isnaeni R.              (21060112130151)
6.     Fajar Dwi Santoso                 (21060112140156)
7.     Ananto Rizkiadi                     (21060112140157)
8.     Annisa Nur F.                        (21060112140166)
9.     Nanda Ariawan Putra             (21060112140167)
10. Antonius Rudi K                   (21060112140170)
11.  Muh. Ilham M.                      (21060112140171)
12.  Muh. Miftahul Falah              (21060112140180)
13. Haikal Alfaro R.                    (21060112140183)
14. Muhamad Rizky Fajar            (21060112140190)
15.Muhammad Hakim Maulana    (21060112140192)
16.Kusumo Tri Atmojo               (21060112140194)
17.Abshar Hamidan                    (21060112140178)
18. Muhammad Irfan Dzakwan     (21060112140154)

Scope Verification (Verifikasi Lingkup)
            Lingkup verifikasi adalah proses mendapatkan penerimaan formal lingkup proyek oleh stakeholder (sponsor, klien, pelanggan, dll). Hal ini dibutuhkan meninjau hasil penyerahan dan untuk memastikan bahwa semua diselesaikan dengan benar dan memuaskan. Jika proyek dihentikan lebih awal, proses verifikasi lingkup harus menetapkan dokumen, tingkat dan sejauh apa penyelesaian proyek. Lingkup verifikasi berbeda dari kontrol kualitas, lingkup verifikasi berkaitan dengan penerimaan hasil kerja sementara kontrol kualitas berkaitan dengan kebenaran dari hasil kerja. Proses ini umumnya dilakukan secara paralel untuk memastikan ketepatan dan penerimaan.

4.1 Input Lingkup Verifikasi
1.      Dokumentasi Hasil
Dokumentasi kerja adalah kiriman hasil kerja yang telah sepenuhnya atau sebagian diselesaian yang merupakan output dari pelaksanaan rencana proyek
2.      Dokumentasi Produk
Dokumentasi produk berfungsi untuk menggambarkan produk proyek yang harus tersedia untuk diperiksa. Istilah yang digunakan untuk menggambarkan dokumentasi ini bervariasi (rencana, spesifikasi, dokumentasi teknis, gambar, dll) berdasarkan area atau wilayah aplikasinya.
3.      Struktur Perincian Pekerjaan (Work Breakdown Structure, WBS)
WBS adalah pengelompokan penyampaian yang berorientasi pada komponen proyek yang mengatur dan menentukan total ruang lingkup proyek. WBS berada diluar lingkup dari proyek, WBS sering digunakan untuk mengembangkan atau mengkonfirmasi pemahaman umum dari lingkup proyek.
Setiap penurunan tingkat mewakili bagian-bagian proyek yang semakin terperinci. Setiap poin di WBS umumnya ditujukan sebagai identifier yang unik, keseluruhan dari identifier ini dapat menyediakan sebuah struktur untuk sebuah hierarki penjumlahan dari biaya dan sumber daya. WBS membantu dalam mendefinisikan ruang lingkup dan harus digunakan untuk memverifikasikan proyek pekerjaan.
4.      Lingkup Pernyataan
Lingkup pernyataan memberikan dasar dokumentasi untuk membuat keputusan terhadap masa depan proyek dan untuk mengkonfirmasi atau mengembangkan pemahaman bersama dari lingkup proyek antara para stakeholder.
Pernyataan lingkup, baik secara langsung maupun tidak langsung, harus mencakup:
·         Pembenaran Proyek, berfungsi untuk mengevaluasi pengeluaran masa depan proyek
·         Produk Proyek, mendeskripsikan produk
·         Pengiriman Proyek, daftar ringkasan tingkat sub-produk yang penuh dan dilakukan pengiriman yang menandai selesainya proyek
·         Tujuan Proyek, kriteria kuantitatif yang harus dipenuhi untuk proyek agar dianggap berhasil. Tujuan proyek harus menyertakan setidaknya: biaya, jadwal dan kualitas tindakan. Tujuan proyek harus memiliki atribut, metric, dan nilai relative/mutlak.
Dari fungsi diatas, lingkup pertanyaan menjadi salah satu detail untuk diverifikasi.
5.      Perencanaan Obyek
Perencanaan obyek merupakan salah satu fungsi vital dalam kegiatan manajemen proyek. Perencanaan dikatakan baik bila seluruh proses kegiatan yang ada didalamnya dapat diimplentasikan sesuai dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dengan tingkat penyimpangan minimal serta hasil akhir maksimal. Aktifitas yang dikerjakan setelah perencanaan proyek disetujui:
·         Penentuan tujuan proyek dan kebutuhan-kebutuhannya.
·         Menguraikan dan mendaftar pekerjaan yang diperlukan untuk mencapai tujuan proyek.
·         Merancang organisasian proyek untuk menentukan departemen yang ada, sub-kontraktor yang diperlukan dan manajer yang bertanggung jawab terhadap aktivitas pekerjaan yang ada.
·         Membuat jadwal untuk setiap aktivitas pekerjaan untuk memperlihatkan waktu, batas selesai dan milestone tiap aktivitas.
·         Merencanakan anggaran dan sumber daya yang dibutuhkan. Rencana ini akan  memberikan informasi mengenai jumlah sumber daya dan waktu untuk setiap aktivitas pekerjaan.
·         Ramalan mengenai waktu, biaya, dan pelaksanaan penyelesaian proyek.
Dari penjelasan tersebut, perencanaan obyek menjadi salah satu detail untuk diverifikasi.

6.      4.2 Perencanaan Obyek
1.      Inspeksi
Inspeksi meliputi kegiatan seperti mengukur, memeriksa dan melakukan pengujian untuk menentukan apakah hasil proyek sesuai dengan persyaratan yang ada. Berbagai inspeksi disebut ulasan, review produk, audit dan penelusuran. Dalam beberapa area aplikasi, banyak istilah-istilah yang berbeda-beda memiliki arti yang sempit dan spesifik.

4.3 Output Lingkup Verifikasi
1.      Penerimaan Formal
Dokumentasi bahwa stakeholder telah menerima produk dari fase proyek atau fase siap didistribusikan. Penerimaan tersebut biasanya bersyarat, terutama pada akhir fasenya.

Sumber: 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar